Senin, 04 Februari 2013

Crazzy Little Thing Called Love

Sinopsis film Crazzy Little Thing Called Love




A Crazy Little Thing Called Love adalah film asal Thailand  yang dirilis tahun 2010 dan baru  terkenal  di Indonesia pada tahun 2011 dan mendapatkan respon luar biasa dari para remaja Indonesia.  Film ini dibintangi oleh para aktor dan aktris berbakat Thailand, seperti Pimchanok Luevisetpaibool dan Mario Maurer. 

Film dengan genre comedy romance ini mengambil latar kehidupan sekolah sehari – hari. Ceritanya yang natural dan ringan menjadikan daya tarik sendiri untuk film ini. 'kisah kasih di sekolah' versi Thai berdasarn kisah nyata dari kita semua yang perna merasakan cinta pertama, 





Nam adalah seorang gadis berkacamata dan berkulit gelap berusia 14 tahun. Ia seperti itik buruk rupa yang diam-diam jatuh cinta dengan Shone (Mario Maurer), seniornya di SMU yang juga siswa paling populer. Teman - teman Nam yang baik hati, membantunya mewujudkan impiannya untuk menarik perhatian seorang Shone. Segala cara telah mereka lakukan sesuai dengan petunjuk buku "9 cara menarik perhatian kakak kelas dari berbagi negara" dari menulis nama orang itu di langit, menghipnotis pikirnnya, dll. Tapi semuanya percuma. Dia terus mencoba. Ia mengubah penampilannya dan semakin giat belajar. Ia mengubah segala aspek di hidupnya. Dan ia sadar, ia melakukannya untuk seorang Shone. Begitu banyak hal yang dia lewati baik suka maupun duka. Bahkan ia sempat bertengkar dengan sahabat-sahabatnya. Rupanya nasib baik mulai menghampirinya,Nam mendapatkan peran Putri Salju dalam drama sekolah yang menyebabkan Ia mulai dikenal dan dilirik siswa laki-laki di sekolahnya. Terlebih setelah Ia menjadi mayoret band di sekolahnya,hampir semua siswa laki-laki menyukainya,termasuk teman masa kecil Shone,yakni Tom (yang sama populernya dengan Shone di sekolah)yang akhirnya menjadi pacar Nam.

Namun demikian,Nam tetap saja merasa sedih,sebab Ia merasa belum berhasil menarik perhatian Shone,pujaan hatinya. Pada saat kelulusan Shone, Nam memberanikan diri untuk menyatakan cintanya. Ia mencoba metode 10, metode yang disarankan sahabat-sahabatnya. Ia akan memberikan shone mawar putih yang berarti ketulusan. Sayangnya, itu tidak berakhir bahagia juga. Shone telah menjadi pacar Pin, yang tak lain adalah teman Shone juga. Dengan sangat kecewa Nam pulang dengan sangat terpukul. 


9 tahun kemudian..

Nam telah menjadi seorang designer ternama di dunia dan ia baru saja pulang dari Amerika, lalu Ia menhadiri suatu reality show. Namun tiba-tiba sang host menunjukkan catatan hitam milik Shone yang sukses membuat Nam kaget. Sang host segera memanggil pemilik catatan hitam itu yang tak lain adalah Khun Shone. Nam benar-benar tak percaya ia akan bertemu dengan cinta pertamanya itu.
Nam yang gugup tak tahu harus berbuat apa hanya bisa berdiri dan merapikan gaunnya. Shone menyerahkan bunganya, “Saya ingin memberi ini untuk Nam”
Nam masih gugup, ia menunjuk dirinya sendiri, “Nam??”
“Ini untuk Nam...”ujar Shone lagi.
Nam mengelus tengkuknya grogi, ia menerima bunga itu sambil malu-malu. Mereka berdua masih berdiri sampai hostnya harus menyuruh mereka duduk.

singkat saja host bertanya pada Nam "Apa kau memiliki sesuatu untuk dikatakan?” tanya Host.
“Emm, saya ingin bertanya pada Kak Shone...”kata Nam takut-takut, “Apakah... Kak Shone sudah menikah?”
Shone terlihat ragu dan berat mengatakannya, “Ummm.... aku....”
Nam menunggu dengan tegang. Tapi kemudian Shhone tersenyum.
“Aku menunggu seseorang pulang dari Amerika...”kata Chon memandang Nam penuh senyum.






and..akhirnya  berakhir dengan Happy Ending deh, 
menurut saya sih film ini jalan ceritanya simple tapi kesannya menyentuh banget.


berikut gambar-gambar dari cuplikan A Crazy Little Thing Called Love





(http://verorike.blogspot.com/2012/07/sinopsis-crazy-little-thing-called-love.html)
Read more >>

Film 5 Cm


Sinopsis 5 CM
13563180031936853814
Persahabatan, cinta, impian, nasionalisme, itulah yang dapat dipetik pelajaran dari sebuah film dari Rizal Mantovani berjudul “5 cm”, yang disadur langsung dari novel karya Donny Dhirgantoro. Dalam kehidupan kita, seorang teman, sahabat merupakan bagian terpenting yang mewarnai perjuangan hidup ini. Semua orang, saya rasa tahu tentang arti persahabatan itu, waloupun tak semua merasakannya. Para pendahulu kita, orang tua misalnya, punya segudang cerita dan kenangan terkait hal yang satu ini. Dan bagaimana mereka menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, karena orang-orang yang dicintai selalu saling mendukung, memberi motivasi dalam perjalanan hidup ini…
Mungkin semua pengalaman tersebut dapat terwakili dalam kisah lima sahabat dalam film “5 cm”. Film ini bercerita tentang persahabatan 5 mahasiswa yang tetap awet sampai 10 tahun. Mereka antara lain Genta (Fedi Nuril), seorang jenius yang selalu membuat terobosan dlm mimpim-mimpinya, Ariel (Denny Sumargo), sahabat paling kekar yang tidak pernah ketinggalan “kecap”nya disetiap menu makanan, Riani (Raline syah), satu-satunya cewek dalam persahabatan ini, cantik, cerdas dan mimiliki kebiasaan “membajak” kuah mie temannya, Ian (Igor Saykoji), si gendut yang hobi banget maen game, makan mie, inilah yang membuat ia ketinggalan menyelesaikan kuliahnya, dan Zafran (Herjunot Ali)yang mengaku paling keren, seorang seniman yang gila dengan puisi dan syairnya. Yang menarik, usaha kerasnya mendekati cewek, Adinda (Pevita pearce) sebagai adek Ariel.
Genta sebagai leader memiliki ide untuk berpisah sementara selama 3 bulan, dan untuk merayakan reoninan pertemuan mereka kembali, petualangan dimulai. Mahameru sebagai puncak tertinggi gunung Semeru, puncak tertinggi pulau Jawa, menjadi tempat yang akan tak terlupakan sebagai petualangan mereka. Disinilah sebenarnya inti cerita film ini, yaitu persahabatan, cinta, mimpi dan Nasionalisme.
Semuanya terwakili dalam statment motivasi sebelum mereka memulai pendakian,
“kita perlu kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya (Genta), mata yang akan menatap lebih lama daripada biasanya (Ian), leher yang akan lebih sering melihat ke atas (Ariel), lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja (Riani), hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya (Zafran), serta mulut ayang akan selalu berdoa (Adinda).”
Ungkapan tersebut, dalam tackline lain diperkuat dengan,
“Setelah doa, maka disiplin yang akan membuat kita selamat”.
Wujud sikap persahabatan meraka semakin terasa dalam setiap detik pendakian menuju Mahameru. Beratnya medan dan minimnya pengalaman mereka, sangat membutuhkan sikap yang sebenarnya dari sebuah persahabatan. Mereka dituntut untuk tidak gengsi jika tak kuat melangkah lagi, dan sahabat yang lainnya akan mendekat, menolong, memeluk, seperti ketika Ariel merasa kedinginan yang hebat bagai tertusuk jarum. Seperti ketika Zafran kakinya terluka, semua terluka, Ian yang hampir mati terkena benturan runtuhan batu, semua terluka dan hampir putus asa.
Genta menyerahkan estafet leader kepada Zafran, untuk mencapai Mahameru. Dan Zafran mulai berorasi motivasi semangat dan puitis, “taruh puncak itu, dan kita semua di sini”, biarkan mimpi itu menggantung, sambil meletak jari telunjuk di depan kening dengan jarak 5 cm. Mimpi mencapai Mahameru semakin dekat, dan luar biasa bahagianya mencapai puncak gunung Semeru, Mahameru. Mencapai puncak sebagai simbol impian-impian mereka. Puncak dimana mereka sadar akan kekayaan negeri, Indonesia, dan memacu untuk menjaga dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Puncak dimana mereka terkesima melihat “lukisan alam”, mereka merasa kecil dan bersyukur oleh ciptaan sang Pencipta yang Agung.
Tepat tanggal 17 Agustus, seperti di sebagian besar puncak gunung di Indonesia sering diadakan upacara bendera untuk memperingati hari kemerdekaan, mereka berikrar dan bersumpah sebagai anak negeri dan bangsa Indonesia. Sebagaimana ikrar semangat nasionalisme ala Ian;
“Saya Ian, saya bangga bisa berada di sini bersama kalian semua… Saya akan mencintai tanah ini seumur hidup saya,… saya akan menjaganya dengan apapun yang saya punya, saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya sendiri… Seperti saya akan selalu menjaga mimpi-mimpi saya terus hidup bersama tanah air tercinta ini…… …yang berani nyela’ Indonesia… ribut sama gue..!”
Mereka sadar bahwa mereka lahir dan besar makan dari tanah Indonesia, minum dari air Indonesia, hidup dari kekayaan alam Indonesia. Hingga akhirnya, Ian sadar dan membatalkan rencananya ingin meneruskan studi di Manchester, England dan memutuskan melanjutkan hidup bersama Indoensia.
Dan sebenarnya, “perjalanan menuju Mahameru adalah perjalanan hati”, keyakinan yang kuat dan memandu menapaki hidup yang indah ini.
Refleksi
Ditengah derasnya produksi film horor-esekesek di industri perfileman Indonesia, seperti film-film yang bertema nasionalisme, sejarah dan kearifan lokal,“5 cm” juga ikut andil dalam membasmi sisa-sisa kejayaan film-film horor indonesia dan kemegahan film-film Barat. Syuting yang dilakukan di ketinggian 3.676 m dpl (di atas permukaan laut), di puncak yang mendapat julukan Langit Pulau Jawa, adalah pertama kali dalam film Indoensia. Dan yang jelas, film adalah salah satu film bertama nasionalisme lain yang akan menambah rasa cinta pada negeri ini.
Unsur drama cinta segi empat oleh Genta, Riani, Zafran, Adinda dan unsur comedy membuat cerita film ini romantis dan menghibur, meledakkan tawa penonton. Cinta yang bersemi antar sahabat itu, berhasil membuat penasaran dan memunculkan ending yang tak terduga. Hal yang membuat lucu adalah gabungan unsur romantic-comedic, seperti strategi-strategi Juplek atau Zafran dalam mendapatkan cinta adinda, tapi malah ditanggapi kaku dan lugu. Hingga munculnya Happy Salma, yang semula ada pada poster dan khayalan-khayalan Ian, menjadi kenyataan di akhir cerita, ini sangat membuat geli (memang akhir-akhir ini Happy Salam sering menjadi bintang tamu dalam film-film bagus Indonesia).
Dan saya memahami, itu merupakan jawaban tentang benar tidaknya mitos. Dimana di lereng yang disebut “tanjakan cinta”, orang yang ketika mendaki terus memikirkan orang yang dicintai, maka akan menjadi jodoh. Itu mitosnya, bisa benar bisa salah. Jawaban itu dikemas ketika Juplek memang tidak berjodoh dengan adinda, dan malah si gendut Ian yang terwujud mimpinya menikahi Happy Salma, punya anak lagi,, aduh,, sekali lagi geli.
Tapi itulah comedy-nya, dari awal cerita unsur ini memang bigitu lekat. Dari kebiasan masing-masing sahabat, perjuangan Ian menyelesaikan skripsi, hingga adekan paling tegang pun akhirnya menjadicomedyc. Uh,,, sang sutradara memang begitu cerdas membawa emasi para penontonnya.
Saya sendiri merefleksikan diri sebagai salah satu 5 sahabat tersebut, seperti dalam kehidupan nyata. Dimana saya merasa selalu jadi Ian yang banyak membutuhkan uluran tangan sahabat lainnya. Banyak membutuhkan semangat, karena ketidak percayaan diri. Memang benar, sahabat itu bagai satu jiwa, satu badan. Jika satu sakit, sakit semua, satu jatuh, jatuh semua.
Tentang kepercayaan diri, ini yang sebenarnya menjadi ruh dalam mencapai mimpi. Dengan menyatukan semua indra ditambah doa dan kedisiplinan, selanjut terserah Tuhan. Maka mimpi itu semakin dekat.
Donny memang luar bisa sebagai pencipta cerita, begitu juga Rizal yang sukses mengarahkan para pemain. Tapi yang menjadi catatan di sini, film yang mirip dengan road-movie ini, jika kita membaca novelnya terlebih dahulu, maka akan merasa terputus-putus ceritanya. Dan akan kecewa dengan kurang lamanya perjuangan pendakian. Terkesan ingin cepat sampai. Maka saya sarannya tonton filmnya dulu, jika memang hobi nonton dan suka membaca novel.
Read more >>

Breaking Dawn part 2


Read more >>

Habibie dan Ainun

Kisah Habibie dan Ainun

Cinta dan kesetiaan pasangan mantan Presiden RI, BJ Habibie dengan istrinya Ainun Habibie memang memberikan inspirasi banyak orang.

Kini, romansa keduanya bakal difilmkan. Menurut Adrie Subono, kisah cinta almarhumah Ainun dengan Habibie di buku 'Habibie dan Ainun' rencananya dibuat film versi layar lebar.

"Ada buku Habibie dan Ainun, yang menceritakan kisah cinta Ibu Ainun hingga beliau pergi. Bagaimana Ibu Ainun tinggal di Jerman, dan mendukung Habibie dalam kesulitan. Buku itu terjual 75 ribu eksemplar setahun, itu akan difilmkan," ungkap Adrie, di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (19/4/2012) malam.

Kisah cinta Habibie-Ainun, lanjutnya, merupakan kisah Romeo-Juliet versi Indonesia, yang wajib ditonton oleh masyarakat Indonesia.

"Kalau Romeo and Juliet itu fiktif, tapi ini kisah cintanya Romeo Juliet yang berusia 46 tahun," imbuh Adrie.

Meski belum menemukan aktor pemeran utama BJ Habibie dan pemeran utama lainnya, Adrie menjelaskan, rencananya pekan depan kru film mulai meriset lokasi syuting di Jerman.

"Yang menggarapnya adalah MD Entertainment, sutradaranya Faozan Rizal bersama Hanum. Produksi minggu depan. Bikin film itu yang paling sulit adalah persiapannya. (Pembuatan) Filmnya paling cuma dua bulan," bebernya.

Ada tiga kota di Jerman dan beberapa kota di Indonesia yang dijadikan tempat syuting lokasi film.

"Di Jerman ada tiga kota, Muenchen, Arkhen, dan Hamburg. Kalau di Indonesia ada di Jakarta, Bandung, dan IPTN," terang Adrie.

Adrie menuturkan, film layar lebar kisah cinta 'Habibie-Ainun' tidak boleh menyimpang dari apa yang ditulis di buku.

"Buku itu bener-bener difilmkan, jadi setiap schene harus mendapatkan approval dari Pak Habibie. Si penulis (skenario) enggak boleh melenceng dari buku itu, karena true story," tukasnya

 Cerita Kelanjutan Terbuat Fliem Habibie Dan Ainun
RASANYA seperti baru kemarin MD Pictures mengumumkan rencananya mengangkat kisah cinta mantan presiden RI BJ Habibie dan almarhumah Hasri Ainun ke layar lebar.
Tahun 2011, Manoj Punjabi, bos MD Pictures, berkata akan mengadaptasi novel Habibie & Ainun yang ditulis Habibie sendiri menjadi sebuah film.
Bukan kabar yang mengejutkan. Pecinta sinetron tentu tahu bahwa pasangan Habibie dan Ainun ini penggemar berat Cinta Fitri, sinetron yang diproduksi MD Entertainment. Bahkan pria yang pernah menjabat sebagai Menristek, Wakil Presiden, dan lalu Presiden RI ini hadir di launching musim ketiga dan keempat sinetron berjumlah 1002 episode itu. Waktu itu, Habibie mengaku ikut istri menonton Cinta Fitri. Menurutnya, kisah cinta Fitri-Farrel mirip dengan perjalanan cinta Habibie-Ainun.
Benarkah demikian?
Adegan pembuka film Habibie & Ainun membawa penonton ke era 1950-an. Kita diajak berkenalan dengan Habibie (yang biasa disapa Rudy) di bangku sekolah (diperankan Esa Sigit) yang kerap mengejek Ainun (diperankan Marsha Natika). Keduanya diperlihatkan tidak akur. Habibie ABG tampak tak nyaman (atau gengsi?) setiap berdekatan dengan Ainun.
Namun ketika keduanya bertemu kembali di tahun 1962, Habibie (Reza Rahardian) terpesona pada paras cantik Ainun (Bunga Citra Lestari). Gadis yang dulu disebutnya "hitam dan gendut" itu telah menjelma jadi wanita yang anggun.
Kesederhanaan Habibie rupanya memikat hati Ainun, juga ayahnya. Keduanya pun menikah. Setelahnya, Anda diajak melihat pasang surut hubungan mereka dari tahun ke tahun. Kecuali Anda tidak pernah mengikuti berita, tentu bisa menebak bagaimana kesudahan kisah ini.
***
Seorang rekan pernah berkata, "di mana ada film Indonesia bagus, di situ ada Reza Rahardian." Well, meski mengawali karier di layar lebar lewat film komersial macam Film Horor (Scary Movie-nya Indonesia) dan Pulau Hantu 2, harus diakui selama 3 tahun terakhir Reza pandai memilih peran. Tetap saja sih filmnya tak bisa memuaskan hati semua penikmat film, tapi pilihan judul yang ia bintangi tergolong "aman."
Dengan track record-nya ini, saya tak kaget jika Reza dipercaya mengemban karakter Habibie. Namun saat sosok Reza sebagai Habibie muncul di layar, saya terperangah. Itu bukan Reza. Itu Habibie! Bahasa tubuh, intonasi dan logat, sampai ekspresi wajah, semuanya mengingatkan pada Habibie.
Reza tak hanya asyik "menjadi" Habibie. Ia juga menyampaikan pesan dalam naskah dengan baik kepada penonton. Bagaimana gestur Habibie ketika sukses dalam berkarya, bagaimana pula mimik wajahnya saat menghadapi kesulitan atau kecewaan. Semua terpancar dengan apik.
Dengan alur linear, sutradara Faozan Rizal seperti mengajak penonton naik mesin waktu. Bagaimana sosok Habibie dan Ainun memulai segalanya dari nol. Karena judulnya Habibie & Ainun, tentu ada porsi tersendiri untuk sang mantan ibu negara.
Ainun tidak digambarkan sebagai super woman. Ia seorang dokter yang bertanggung jawab. Tapi sebagai ibu dan istri, ada kalanya Ainun rapuh. Ketika Habibie merintis karier di Jerman dan hanya mampu menyewa flat kecil, terlihat bagaimana pergolakan batin yang dialami Ainun yang sedang hamil muda. Ainun ingin pulang kampung.
“Di sini tempatmu. Tempatku di Indonesia,” ujar Ainun hampir menyerah.
“Kita sedang melakukan perjalanan, dan berada di terowongan. Gelap. Kita tidak tahu sepanjang apa terowongan itu. Tapi setiap terowongan pasti memiliki ujung. Akan ada cahaya di sana,” balas Habibie meyakinkan.
Film Habibie & Ainun tidak melulu membahas cinta. Kegigihan Habibie dalam berkarya, dari sarjana teknik sampai profesor, ditampilkan di film yang skenarionya ditulis Ginatri S. Noer dan Ifan Ismail ini. Bagaimana tokoh yang sukses di Jerman ini lalu "ditarik" ke Indonesia, dan harus berhadapan dengan intrik-intrik kotor yang dilakukan pengusaha nakal yang ingin menyabotase proyeknya. Sampai runtuhnya masa pemerintahan mantan presiden Soeharto, yang membuat Habibie menggantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia.
***
Ada satu hal yang sebenarnya bukan masalah buat saya, namun mau tak mau saya tulis di sini karena beberapa rekan merasa terganggu: product placement. Ada banyak produk yang wara-wiri di film ini: sirup, kosmetik, biskuit, dan bank. Saya sih memilih untuk tak terganggu. Toh kehadirannya masih bisa dimaafkan. Malah ada satu adegan "ngiklan" yang saya tidak ngeh kalau rekan saya tidak bilang. Ada yang salah dengan menyajikan sirup di pesta pernikahan, atau oleh-oleh biskuit cokelat dari cucu untuk kakek-neneknya?
Product placement memang banyak bertebaran di film besar. Khususnya film produksi MD. Ingat heboh obat nyamuk bakar, biskuit modern, dan kacang atom di film Di Bawah Lindungan Kabah (DBLK)? Di sinetron stripping pun MD kerap menyelipkan iklan, seperti produk operator seluler.
Kalau dibandingkan dengan DBLK, product placement di Habibie & Ainun jauh lebih halus. Untungnya di film ini tak disebut sama sekali kalau Habibie-Ainun gemar nonton Cinta Fitri, yang konon sampai minta dikirim DVD-nya ke Jerman itu.
Meski demikian ada hal kecil yang cukup mengusik saya. Ada sosok presiden Soeharto yang diperankan oleh Tio Pakusodewo dalam film berdurasi sekitar 2 jam ini. Namun anehnya, saat sosok Soeharto tampil dalam berita TV, atau fotonya terpampang di samping Garuda Pancasila, yang ditampilkan ya wajah almarhum Soeharto asli. Bukan Tio. Jadi ketika ada foto presiden dan wakilnya mengapit Garuda Pancasila terpampang wajah Soeharto asli dan Reza sebagai Habibie, saya merasa aneh.
Tapi kehadiran Hanung Bramantyo sebagai "calo" proyek, yang rasanya terlalu lama untuk dibilang cameo, cukup memberi angin segar. Film yang syuting di luar negeri, biasanya sibuk mengeksplorasi keindahan negara tersebut. Tidak dengan Habibie & Ainun. Kondisi Jerman ditampilkan seperlunya. Penonton tetap dibuat fokus pada konflik yang dialami Habibie dan Ainun.
Jika Anda belum menonton filmnya, ada baiknya berhenti membaca tulisan ini sampai di sini, karena kalimat-kalimat mengandung spoiler.
Seorang rekan yang mengaku terakhir dibuat menangis oleh film The Notebook (2004), pertahanannya gagal usai menonton Habibie & Ainun. Saya sendiri tak sampai menangis menonton film ini. Yang ada lebih ke speechless, beberapa kali menahan nafas, saking menyentuhnya. Ketidak sempurnaan karakter utama yang membuat terenyuh. Lihatlah bagaimana Habibie yang "memaksa" dokter untuk melakukan operasi berulang kali agar Ainun sembuh. Namun ketika diingatkan seorang kerabat, Habibie menyadari perbuatannya itu didasari egonya yang tak mau kehilangan istri yang amat dicintainya. Ini menurut saya adegan paling emosional.

(http://ajmainhalta.blogspot.com/2013/01/cerita-habibie-dan-ainun.html)
Read more >>

Habibie dan Ainun


Read more >>