Senin, 04 Februari 2013

Habibie dan Ainun

Kisah Habibie dan Ainun

Cinta dan kesetiaan pasangan mantan Presiden RIBJ Habibie dengan istrinya Ainun Habibie memang memberikan inspirasi banyak orang.

Kini, romansa keduanya bakal difilmkan. Menurut Adrie Subono, kisah cinta almarhumah Ainun dengan Habibie di buku 'Habibie dan Ainun' rencananya dibuat film versi layar lebar.

"Ada buku Habibie dan Ainun, yang menceritakan kisah cinta Ibu Ainun hingga beliau pergi. Bagaimana Ibu Ainun tinggal di Jerman, dan mendukung Habibie dalam kesulitan. Buku itu terjual 75 ribu eksemplar setahun, itu akan difilmkan," ungkap Adrie, di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (19/4/2012) malam.

Kisah cinta Habibie-Ainun, lanjutnya, merupakan kisah Romeo-Juliet versi Indonesia, yang wajib ditonton oleh masyarakat Indonesia.

"Kalau Romeo and Juliet itu fiktif, tapi ini kisah cintanya Romeo Juliet yang berusia 46 tahun," imbuh Adrie.

Meski belum menemukan aktor pemeran utama BJ Habibie dan pemeran utama lainnya, Adrie menjelaskan, rencananya pekan depan kru film mulai meriset lokasi syuting di Jerman.

"Yang menggarapnya adalah MD Entertainment, sutradaranya Faozan Rizal bersama Hanum. Produksi minggu depan. Bikin film itu yang paling sulit adalah persiapannya. (Pembuatan) Filmnya paling cuma dua bulan," bebernya.

Ada tiga kota di Jerman dan beberapa kota di Indonesia yang dijadikan tempat syuting lokasi film.

"Di Jerman ada tiga kota, Muenchen, Arkhen, dan Hamburg. Kalau di Indonesia ada di Jakarta, Bandung, dan IPTN," terang Adrie.

Adrie menuturkan, film layar lebar kisah cinta 'Habibie-Ainun' tidak boleh menyimpang dari apa yang ditulis di buku.

"Buku itu bener-bener difilmkan, jadi setiap schene harus mendapatkan approval dari Pak Habibie. Si penulis (skenario) enggak boleh melenceng dari buku itu, karena true story," tukasnya

 Cerita Kelanjutan Terbuat Fliem Habibie Dan Ainun
RASANYA seperti baru kemarin MD Pictures mengumumkan rencananya mengangkat kisah cinta mantan presiden RI BJ Habibie dan almarhumah Hasri Ainun ke layar lebar.
Tahun 2011, Manoj Punjabi, bos MD Pictures, berkata akan mengadaptasi novel Habibie & Ainun yang ditulis Habibie sendiri menjadi sebuah film.
Bukan kabar yang mengejutkan. Pecinta sinetron tentu tahu bahwa pasangan Habibie dan Ainun ini penggemar berat Cinta Fitri, sinetron yang diproduksi MD Entertainment. Bahkan pria yang pernah menjabat sebagai Menristek, Wakil Presiden, dan lalu Presiden RI ini hadir di launching musim ketiga dan keempat sinetron berjumlah 1002 episode itu. Waktu itu, Habibie mengaku ikut istri menonton Cinta Fitri. Menurutnya, kisah cinta Fitri-Farrel mirip dengan perjalanan cinta Habibie-Ainun.
Benarkah demikian?
Adegan pembuka film Habibie & Ainun membawa penonton ke era 1950-an. Kita diajak berkenalan dengan Habibie (yang biasa disapa Rudy) di bangku sekolah (diperankan Esa Sigit) yang kerap mengejek Ainun (diperankan Marsha Natika). Keduanya diperlihatkan tidak akur. Habibie ABG tampak tak nyaman (atau gengsi?) setiap berdekatan dengan Ainun.
Namun ketika keduanya bertemu kembali di tahun 1962, Habibie (Reza Rahardian) terpesona pada paras cantik Ainun (Bunga Citra Lestari). Gadis yang dulu disebutnya "hitam dan gendut" itu telah menjelma jadi wanita yang anggun.
Kesederhanaan Habibie rupanya memikat hati Ainun, juga ayahnya. Keduanya pun menikah. Setelahnya, Anda diajak melihat pasang surut hubungan mereka dari tahun ke tahun. Kecuali Anda tidak pernah mengikuti berita, tentu bisa menebak bagaimana kesudahan kisah ini.
***
Seorang rekan pernah berkata, "di mana ada film Indonesia bagus, di situ ada Reza Rahardian." Well, meski mengawali karier di layar lebar lewat film komersial macam Film Horor (Scary Movie-nya Indonesia) dan Pulau Hantu 2, harus diakui selama 3 tahun terakhir Reza pandai memilih peran. Tetap saja sih filmnya tak bisa memuaskan hati semua penikmat film, tapi pilihan judul yang ia bintangi tergolong "aman."
Dengan track record-nya ini, saya tak kaget jika Reza dipercaya mengemban karakter Habibie. Namun saat sosok Reza sebagai Habibie muncul di layar, saya terperangah. Itu bukan Reza. Itu Habibie! Bahasa tubuh, intonasi dan logat, sampai ekspresi wajah, semuanya mengingatkan pada Habibie.
Reza tak hanya asyik "menjadi" Habibie. Ia juga menyampaikan pesan dalam naskah dengan baik kepada penonton. Bagaimana gestur Habibie ketika sukses dalam berkarya, bagaimana pula mimik wajahnya saat menghadapi kesulitan atau kecewaan. Semua terpancar dengan apik.
Dengan alur linear, sutradara Faozan Rizal seperti mengajak penonton naik mesin waktu. Bagaimana sosok Habibie dan Ainun memulai segalanya dari nol. Karena judulnya Habibie & Ainun, tentu ada porsi tersendiri untuk sang mantan ibu negara.
Ainun tidak digambarkan sebagai super woman. Ia seorang dokter yang bertanggung jawab. Tapi sebagai ibu dan istri, ada kalanya Ainun rapuh. Ketika Habibie merintis karier di Jerman dan hanya mampu menyewa flat kecil, terlihat bagaimana pergolakan batin yang dialami Ainun yang sedang hamil muda. Ainun ingin pulang kampung.
“Di sini tempatmu. Tempatku di Indonesia,” ujar Ainun hampir menyerah.
“Kita sedang melakukan perjalanan, dan berada di terowongan. Gelap. Kita tidak tahu sepanjang apa terowongan itu. Tapi setiap terowongan pasti memiliki ujung. Akan ada cahaya di sana,” balas Habibie meyakinkan.
Film Habibie & Ainun tidak melulu membahas cinta. Kegigihan Habibie dalam berkarya, dari sarjana teknik sampai profesor, ditampilkan di film yang skenarionya ditulis Ginatri S. Noer dan Ifan Ismail ini. Bagaimana tokoh yang sukses di Jerman ini lalu "ditarik" ke Indonesia, dan harus berhadapan dengan intrik-intrik kotor yang dilakukan pengusaha nakal yang ingin menyabotase proyeknya. Sampai runtuhnya masa pemerintahan mantan presiden Soeharto, yang membuat Habibie menggantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia.
***
Ada satu hal yang sebenarnya bukan masalah buat saya, namun mau tak mau saya tulis di sini karena beberapa rekan merasa terganggu: product placement. Ada banyak produk yang wara-wiri di film ini: sirup, kosmetik, biskuit, dan bank. Saya sih memilih untuk tak terganggu. Toh kehadirannya masih bisa dimaafkan. Malah ada satu adegan "ngiklan" yang saya tidak ngeh kalau rekan saya tidak bilang. Ada yang salah dengan menyajikan sirup di pesta pernikahan, atau oleh-oleh biskuit cokelat dari cucu untuk kakek-neneknya?
Product placement memang banyak bertebaran di film besar. Khususnya film produksi MD. Ingat heboh obat nyamuk bakar, biskuit modern, dan kacang atom di film Di Bawah Lindungan Kabah (DBLK)? Di sinetron stripping pun MD kerap menyelipkan iklan, seperti produk operator seluler.
Kalau dibandingkan dengan DBLK, product placement di Habibie & Ainun jauh lebih halus. Untungnya di film ini tak disebut sama sekali kalau Habibie-Ainun gemar nonton Cinta Fitri, yang konon sampai minta dikirim DVD-nya ke Jerman itu.
Meski demikian ada hal kecil yang cukup mengusik saya. Ada sosok presiden Soeharto yang diperankan oleh Tio Pakusodewo dalam film berdurasi sekitar 2 jam ini. Namun anehnya, saat sosok Soeharto tampil dalam berita TV, atau fotonya terpampang di samping Garuda Pancasila, yang ditampilkan ya wajah almarhum Soeharto asli. Bukan Tio. Jadi ketika ada foto presiden dan wakilnya mengapit Garuda Pancasila terpampang wajah Soeharto asli dan Reza sebagai Habibie, saya merasa aneh.
Tapi kehadiran Hanung Bramantyo sebagai "calo" proyek, yang rasanya terlalu lama untuk dibilang cameo, cukup memberi angin segar. Film yang syuting di luar negeri, biasanya sibuk mengeksplorasi keindahan negara tersebut. Tidak dengan Habibie & Ainun. Kondisi Jerman ditampilkan seperlunya. Penonton tetap dibuat fokus pada konflik yang dialami Habibie dan Ainun.
Jika Anda belum menonton filmnya, ada baiknya berhenti membaca tulisan ini sampai di sini, karena kalimat-kalimat mengandung spoiler.
Seorang rekan yang mengaku terakhir dibuat menangis oleh film The Notebook (2004), pertahanannya gagal usai menonton Habibie & Ainun. Saya sendiri tak sampai menangis menonton film ini. Yang ada lebih ke speechless, beberapa kali menahan nafas, saking menyentuhnya. Ketidak sempurnaan karakter utama yang membuat terenyuh. Lihatlah bagaimana Habibie yang "memaksa" dokter untuk melakukan operasi berulang kali agar Ainun sembuh. Namun ketika diingatkan seorang kerabat, Habibie menyadari perbuatannya itu didasari egonya yang tak mau kehilangan istri yang amat dicintainya. Ini menurut saya adegan paling emosional.

(http://ajmainhalta.blogspot.com/2013/01/cerita-habibie-dan-ainun.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar